20 Jan 2015
BADAI (chapter 12 Novel 'Sabtu yang kutunggu')
Satu minggu ini vidi tidak masuk
kuliah. Aku dan kedua sahabatku selalu mampir kerumahnya. Menjenguknya dan
menemaninya agar tidak bosan. Kami juga mengkopikan file materi kuliah kami ke
komputernya. Dia tidak bisa meminta sertu untuk selalu menemaninya setiap
waktu. Paham betul tidak bisa selalu manja kepada sertu dan harus bisa mengerti
pekerjaan sertu. Mungkin karena ini kehamilan pertama untuk vidi, dia baru
sekali ini merasakan hal-hal yang baru sekali ini dialaminya.
Dua jam kami disini vidi sudah
mondar-mandir sampai dua puloh kalian lebih ke kamar mandi.
“uuuh
mual banget nih”
“coba
searching-searching di internet” aku memijit-mijit pelan leher vidi. Tidak tega
melihatnya seperti ini. Menjadi Ibu hamil ternyata bisa semenderita ini.
“disini
tertulis, kalo penyebab ibu hamil mual itu karena dia kelebihan hormon
azzzzzz... mending lu baca sendiri deh jen..., panjang banget....” desy menjauh
dari leptopnya dan memberikannya kepadaku.
“emang
kenapa?”
“gua
nggak ngerti sama bahasanya,
gue kan paling ga bisa kalo pelajaran ini”
Aku
mulai membaca beberapa artikel yang ditampilkan, setelah membaca beberapa artikel,
memang sebaiknya vidi dibawa ke dokter kandungan untuk check up.
Kami bertiga menemani vidi check up hari itu. Melihat
perkembangan calon keponakan kami kelak. Sudah lebih dari baik.
Vidi sudah meminum beberapa obat yang diberikan Pa Dokter. Desy kembali kumat
dengan kecentelinannya. Kali ini dokter kandungan yang menangani vidi. Dia
selalu tertarik dengan laki-laki yang dia anggap tampan dan memiliki pekerjaan
yang mulia dimatanya. Sulit sekali untuk desy tertarik dengan teman-temannya
sendiri, padahal kalau desy tidak terlalu pilah-pilih, ada beberapa teman yang
seumuran dengan kami yang menyukainya dan mengindeksikan kalau mereka ingin
serius dengannya.
Sementara desy dan puspa mengambil
mobil menuju parkiran, aku menemani vidi pergi ke kamar mandi. Kemudian kembali
menyusuri gedung rumah sakit menuju parkiran.
“JEN!”
seseorang memanggilku dari kejauhan dan berlari kearah kami. Dia mengenakan jas
putih layaknya seorang dokter.
“jemi?”
aku tidak percaya, melihatnya mengenakan jas dokter.
“kamu
dokter?” tanyaku lagi
“trus???,
toko yang waktu itu?”
“iseng”
dia menjawabnya santai.
“hai..”
jemi menyapa vidi. Vidi membalas sekenanya.
“abis
check up?” tanyanya
“iya...
akhir-akhir ini vidi mual lebih parah”
“hmm”
“tadi
dengan Pa Yunus? Atau..??” jemi menanyakan nama dokter yang merawat vidi.
“Bu
Aisya”
“tapi
sekarang udah mendingan” vidi melanjutkan.
“kamu?”
aku menanyai nya
“dokter
kandungan” jawab jemi santai
“azz
kenapa baru bilang sekarang,coba dari kemarin bilangnya, kan gue bisa nanya ke lu”
senewen dengan jemi.
“kalo
gitu, besok-besok gue control sama lu aja”
“itu
mah gampang, tapi sekarang udah lebih baik kan di?” tanyanya sopan.
“iya”
“dijaga
baik-baik kandungannya. Kalo emang ada keluhan atau ada sesuatu jangan segen
buat hubungi aku yah jen”
“eh!
Ko aku?”
“kan
kamu tugasnya jagain vidi”
Setelah itu, setiap kontrol vidi
selalu ditangani oleh jemi. Aku menjadi sering bertemu dan berbicara dengan
jemi, menanyakan kandungan vidi.
Kamu masih di rumah
sakit? Ka neo mengirimiku whatsap singkat
Iya,
ada jemi disini. Dia dokter kandungan
Kebetulan banget
Huum
Vidi baru saja keluar dari ruangan
jemi. Sekarang kesehatannya lebih membaik. Aku jarang menerima kelohan kalau
dia masih sering mual-mual. Suaminya sertu sedang pergi ke singapura untuk
mengerjakan pekerjaan jadilah aku sebagai satpam untuk vidi.
“nanti
malam mau keluar?” jemi memulai percakapannya denganku
“kemana?”
“kemana
aja, yang penting asik”
“maaf
jem, gue ga bisa”
“ok”
Vidi mendengar percakapanku dengan
jemi. Setiap kami selesai kontrol vidi selalu mengatakan kalau jemi memiliki
perasaan kepadaku. Membuatku sedikit agak senang tetapi juga mulai merasakan
risih.
Aku tidak mau mengkhianati
perasaanku kepada ka neo. Ka neo sudah mempercayakan banyak hal kepadaku, jadi
aku harus bisa membalasnya dengan hal baik pula.
“lama-lama
aku bisa bilang kamu mendingan sama jemi deh”
“ya
ga gitu juga kali di, emangnya aku segitu matrenya”
“kalo
matre, lu mah udah pasti milih ka neo”
“iii
enak aja. trus karena milih ka neo, lu bilang gue matre?”
“hhahaha,
ga juga sih.”
“trus?”
“emang
susah ya jen dijelasin kalo udah masalah perasaan”
“nahh
itu...”
Malamnya aku menginap di rumah vidi.
Lelah sekali menemani kemanapun vidi pergi. Bersyukur aku dilahirkan menjadi
seorang wanita bukan laki-laki.
“Gubrak!!”
aku terbangun dan kulihat vidi tidak ada disampingku. Membuka selimutku dan
terburu-buru mencari dimana vidi. Takut terjadi sesuatu dengannya.
“viiiidiii!”
aku berlari menuju vidi yang terjatuh di lantai.
“di..
bangun..” vidi tak sadarkan diri. Terburu-buru mengambil handphone, tanpa pikir
panjang langsung menghubungi jemi.
Jemi datang dengan mobil ambulan.
Tim ambulan dengan cekatan membawa vidi kedalam mobil. Aku ikut duduk
dibelakang memegang tangan vidi yang begitu lemah.
“kayanya
dia kecapean banget jen. Apa vidi bekerja?”
“engga,
tapi dia hobi banget beresin rumah akhir-akhir ini”
“dia
kecapean jen. Seharusnya tugas rumah tangga atau yang lain jangan terlalu
dipaksain,
soalnya badan vidi itu lemah banget,
apalagi dia lagi hamil. Makanan yang dia makan aja dibagi dua. Buat janinnya
juga. Makanya dia harus bisa lebih menjaga diri lagi lebih baik.
Dalam ambulance aku menghubungi
sertu, ka neo, dan dua sahabatku. Aku sungguh takut terjadi sesuatu yang tidak
aku inginkan. Ingin sekali ada seseorang
menemaniku saat ini yang mampu mengusir segala kecemasanku.
Aku terbangun. Semalaman tanpa sadar
aku ketiduran di tempat duduk di ruangan kamar vidi.
Bermaksud membeli kopi dipagi ini.
Membuka dan menutup pintu dengan pelan. Aku tidak mau vidi terbangun karenaku.
“pok”
bau seseorang yang sangat kuhafal. Sebuah topi yang terbuat dari wol dia
kenakan di kepalaku. Aku lantas berbalik dan tersenyum kepadanya.
“ka
neo..”
“kamu
mau kemana?”
“kopi..
kaka baru datang atau dari semalem?” tanyaku. Ka neo tidak menjawab
pertanyaanku. Dia diam dan berjalan mendahuluiku. Aku tidak ingin
mempermasalahkannya. Tidak mau ribut dengannya, melihat kondisi vidi saat ini,
aku tidak mau terlarut dengan egoku sendiri.
Ka neo duduk berjauhan denganku.
Terasa sekali ada yang berbeda dengannya. Disaat aku membutuhkan seseorang
untuk menguatkanku. Agar aku bisa tenang dengan apa yang sedang menimpa vidi,
agar aku bisa selalu ada disampingnya ketika sertu tidak bisa berada
disampingnya. Semuanya seperti sirna tanpa jejak.
“ikut
aku” ka neo membawaku ketaman yang masih sepi yang ada di halaman rumah sakit.
“aku
ga suka”
“apa?,
aku ga ngerti, maksud ka neo itu apa?”
“kamu
semalem tidur di pundak jemi” dia memalingkan wajahnya
“...”
aku tidak tahu harus menjawab apa
“aku
ga suka kamu deket sama jemi. Apalagi sampai kaya semalem”
“aku
ga sadar ka semalem. Aku cape banget”
“itu
bukan alasan jen”
“iya..
maaf ka”
Ada percikan senang saat melihat ka
neo seperti ini. Ka neo cemburu dengan jemi. Kukira dia sama sekali tidak
memiliki perasaan cemburu dengan teman-temanku.
“kaka...
kamu cemburu?, artinya kamu bener-bener sayang sama aku... makasi ya ka”
menggandeng tangannya
“maafin
aku, aku ga sengaja.. jangan marah ..” ka neo masih saja diam.
“yaudah
deh, kalo kamu masih marah...ayok masuk” dengan menggandeng tangan ka neo, aku
mengajaknya masuk ke tempat vidi.
Dari luar kaca, kulihat sertu sudah
didalam. Dia duduk dengan tangan yang
menggenggam erat
tangan vidi. Ada raut kecemasan dan kesedihan di wajahnya. Aku tidak
mau masuk dan menggangggu mereka.
Tak lama kemudian jemi melintasiku
dan ka neo. Menyapa kami sekenanya dan masuk kedalam ruangan dengan beberapa
suster. Memeriksa vidi. Entah pertanyaan apa yang sertu tanyakan kepada jemi,
yang membuat jemi lama sekali di dalam ruangan. Melihat jemi yang keluar dari
kamar vidi, aku berdiri dan menanyainya.
Menurutnya vidi semakin membaik dan
sebaiknya sudah tidak usah disibukkan dengan kegiatan kuliah atau pekerjaan rumah
tangga. Dia membutuhkan banyak waktu untuk istirahat dan waktu untuk refreshing agar tidak
stress.
Merasa senang dengan apa yang diucapkan
jemi aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Berusaha menjaga jarak agar ka neo
tidak terlalu cemburu.
Kurang lebih aku mengerti bagaimana
rasanya kalau aku jadi ka neo sekarang. Aku sudah pernah mengalaminya dan
sering mengalaminya jika itu ka neo. Sekarang ka neo yang sedang mengalaminya.
Aku masih sangat mengantuk. Menutupi
mulutku beberapa kali karena masih saja menguap. “kamu masih ngantuk” akhirnya
ka neo berbicara dan merapihkan poniku.
“lumayan
ka..”
“mau
istirahat di rumah ku?, ga jauh dari sini”
“rumah
kaka?”
“iya..”
“kaka
ga tinggal satu rumah lagi sama orang tua kaka”
“kamu
lupa ya?, rumah sakit ini kan dekat rumah orang tua kaka”
“o
iya ya.. lupa ka...”
Ka neo mengantarku ke rumahnya. Baru
beberapa menit di mobilnya aku sudah tertidur pulas.
Aku terbangun disebuah ruangan yang
sama sekali tidak kukenali sebelumnya sampai kulihat sebuah foto dimana ada aku
dan ka neo. Ini kamar ka neo. Terlalu rapih untuk ukuran lelaki kantoran yang
sibuk yang juga dosen.
Tunggu, aku ketiduran berapa jam
disini?, ka neo ga ngapa-ngapain aku kan?, beranjak bangun dan mencari ka neo.
Ngaca dulu, aku ga mau keliatan jelek banget nanti kalo ketemu ka neo. Pergi ke
kamar mandi dan membasuh wajahku. Berkeliling di rumah ka neo. Sama sekali
tidak menemukannya. Jangan-jangan aku ditinggal sendiri dirumahnya, apa dia
beli makanan keluar?.
Mencari
ponselku dan menghubunginya. “ka neo?” aku menyapanya langsung saat dia
mengangkat telefonnya. Bukan suara ka neo yang kudengar melainkan suara riri.
Jelas kudengar ka neo merebut ponselnya dari tangan riri.
“halo”
“ka
neo?”
“jen..
jangan salah paham dulu, kamu baru bangun?, ka neo balik sekarang”
“apa
maksudnya ini?”
Ka neo memutus telefonku. Aku sama
sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini. Kenapa riri bersama ka
neo. Kurang dari sepuluh menit ka neo kembali. Aku duduk menunggunya di ruang
tamunya.
“jeni”
dia berlari terburu-buru untuk menemuiku.
“syukur
kamu masih dirumah”
“maksudnya
apa?” pertanyaanku cukup singkat.
“ka
neo Cuma mau kamu ga salah paham lagi sama riri. Tadi ka neo ga sengaja ketemu
dia di supermarket, trus ngobrol sebentar. Ka neo pergi sebentar buat ambil
pesenan kaka. Waktu kamu telefon dia langsung main angkat”
“itu
sebabnya tadi kaka bertengkar dengan dia?”
“iya”
“jangan-jangan
kaka masih sering ketemu dia?” pertanyaanku keluar begitu saja.
“engga
jen”
“aku
ngerasa ada yang aneh sama kaka dari kemarin”
Drrrt...ponselku
berdering. Jemi. Ka neo melihatnya jelas di layar ponselku. Aku mengambilnya
dari atas meja dan mengangkat telefon jemi. Memunggungi ka neo tanpa bermaksud
apa-apa.
“apa?”
“iya..”
“gue
kesana sekarang”
Ka
neo menunggu penjelasanku. Menanyaiku kenapa dia menelefonku.
“kita
kerumah sakit sekarang”
“kamu
aja, aku ga ikut” ka neo duduk. Aku pergi meninggalkannya.
Perasaan ini seakan sedang diuji.
Kepercayaanku dan kepercayaannya. Kenapa ada wanita yang tidak kusukai yang
masih menganggunya dan kenapa ka neo harus cemburu dengan jemi. Kenapa
laki-laki sebaik jemi harus dia permasalahkan hanya karena sering menghubungiku.Seharusnya
dia mendengarkan penjelasanku. Kecemburuannya saat ini tidak lebih penting dari
nyawa vidi dan bayinya. Kenapa ka neo begitu egois. Berbagai pertanyaan muncul
dikepalaku. aku tidak begitu mengerti dengan jalan pikiran ka neo.
Di depan sebuah kamar, sertu, desy,
dan puspa berdiri tegang. Usia kandungan vidi tujuh bulan dan dia sekarang
sedang berjuang untuk melahirkannya. Yang kudengar dari jemi, saat vidi turun
dari ranjangnya bermaksud pergi kekamar mandi dia terpeleset dan mengakibatkan
air tubannya pecah karenanya harus dilakukan operasi secepatnya.
Aku sungguh mengkhawatirkan vidi.
Berharap dia dan bayinya baik-baik saja. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang
membuatnya sedih. Berharap semuanya berakhir bahagia.
Dua jam terasa sangat lama namun
mendapatkan hasil yang membahagiakan. Vidi dan bayinya selamat. Tidak ada kabar
yang lebih baik dari itu untuk saat ini.
“syukurlah”
desy memeluk puspa, kami bertiga saling berpelukan dan mengucapkan selamat
kepada sertu. Jemi keluar paling pertama dari ruangan operasi. Aku mendekatinya
dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Dia menyunggingkan senyuman dan
mengacak-acak rambutku.
“jen..”
puspa menggoyangkan bahuku.
“ya
pus?”
Aku
melihat siapa yang dilihat oleh puspa. Disana berdiri ka neo. Dia melihatku dan
jemi. Membawa seikat bunga dan jatuh begitu saja. Tanpa mengatakan apapun dia
pergi meninggalkanku.
BERANI (chapter 11 Novel 'sabtu yang kutunggu')
Setiap
sabtu, dimana ka neo mengajar disana riri berada. Aku sering sekali melihatnya.
Selama tiga kali pertemuan ka neo di mata kuliahku, aku melihat riri yang
menyapanya dari balik kaca pintu. Belajar dari pengalamanku sebelumya. Aku
tidak mau terbakar emosi. Belajar untuk lebih sabar dan percaya lagi.
“itu
siapa si jen?”
“kayanya
udah berapa kali gue liat dia nyapa-nyapa Pak Neo kalo lagi ngajar deh”
“iya..
kalo ga senyum-senyum ga jelas gitu?”
Vidi,
desy, dan puspa menanyaiku. Mengingat aku memiliki hubungan dengan Ka Neo.
“temen
ka neo” aku menjawab singkat. Kembali memperhatikan materi yang ka neo jelaskan
dari layar proyektor.
“yakin
Cuma temen?, gue ngerasanya dia kaya kecentilan gitu” puspa menyelidik.
“perasan
lu aja kali”
“eh!”
vidi berujar seperti kaget.
“kenapa?”
aku, desy, dan puspa bersamaan. Takut terjadi sesuatu dengan vidi.
“bayinya
nendang”
“waaa.....”
Aku,
desy, dan puspa bergantian menempelkan telinga kami di perut vidi. Sibuk
sendiri.
“haloooo....”
Ka Neo mengetuk penghapus di papan tulis beberapa kali. Meminta kami
memperhatikannya.
“maaf
Pa” aku berujar lirih.
“kalau
kalian tidak mau mendengarkan penjelasan atau mengikuti mata kuliah Bapak,
kalian cukup keluar kelas.”
Semakin
kesini aku merasa sikap ka neo semakin dingin kepadaku. Semenjak pertemuan kami
dengan riri.
“cowo
lu kenapa si jen?” desy sedikit kesal melihat perlakuan Ka Neo di kelas
kepadaku.
“bukan
cowo gue”
“
yaa apa aja deh.. dia kenapa?”
“nggak tau dan nggak ada urusan”
“kayanya
lu lagi ada masalah ya?” puspa menghentikan makannya dan memandangiku.
“ssttt...
jangan sampe vidi tau, kasian dia lagi hamil, ada malah stress” aku melihat
vidi yang dapang menghampiri kami setelah keluar dari toilet.
“hayoo
ngomongin gue ya?” dia datang dengan mengelus perutnya.
“hhaha..
pede bingit nih Bumil”
“apa
tuh bumil?”
“ibu
hamil..”
“hhahaha”
“eh..
serius nih.. ngomongin gue ya barusan” vidi masih penasaran.
“vidi
penasaran banget dah. Orang kita lagi mikir-mikir debay lu cewe apa cowo..
bukan elunya”
“hhahaha
sama aja keles”
“beda..
kan kita ngomonginnya debay yang diperut lu”
“ih.
Maksa banget deh”
“trus-trus
kata dokter cewe apa cowo?”
“katanya
si cowo”
“kapan
terakhir lu ke dokter?”
“baru
kemarin, si sertu mah bener-bener. Kenapa-kenapa sedikit langsung ke dokter”
“wiiidiiih
sertu... bukan main... seneng dong lu nya”
“gue
ga nyesel beneran nikah muda, sama dia lagi. Dia bener-bener pengertian.
Malem-malem kalo gue bangun, dia bangun. Kalo gue pengen makan apa mau itu
tengah malem, dia pasti nyariin. Setiap pagi .. pasti udah ada susu sama roti
di meja. Gue kalah bangun mulu. Padahal tidur duluan terus. Urusan rumah aja
kadangan dia yang ngurusin.”
“waaa
senengnya..”
“banget..
makanya gue nambah-nambah nambah terus sayang nya..”
“tapi
jangan keterusan dia terus juga vidi”
“ya
ga lah puspa.. kalo gue bisa, gue pasti lakuin sendiri”
“siiip”
“eh
iya.. nanti temenin gue hunting baju-baju bayi mau ga?”
“mau-mau-mau”
aku, desi, dan puspa kembali menjawab kompak. Ini keberapa kalinya kami
menjawab berbarengan.
“eh..
yakin lu gapapa jen?” desy ingat hari ini biasanya aku pergi dengan ka neo.
“gapapa...
gue juga kan pengen ngabisin waktu sama lu pada. Jarang-jarang juga kan”
“mending
lu bilang dulu deh” vidi mengingatkan.
“iya..”
aku mengambil ponselku dan mengirim sebuah pesan singkat kepada ka neo.
Menutupnya dan menaruhnya kembali ke tas.
“cepet
banget” vidi keheranan.
“emang
mau nulis apaan lagi?”
“yaa
kan biasanya mikir dulu”
“itu
mah si puspa.. kalo jawab sms lama banget”
“eh!
Eh! Itu dulu ya.. sekarang kan udah engga” puspa protes.
“ya
tetep aja...”
Kami tetap kece berempat, mengitari
pertokoan yang ada di salah satu mal, dengan salah satu perut yang sudah
membelendung diantara kami. Bukan lagi menatapi baju-baju fashion melainkan
baju-baju bayi.
“di..
liat deh.. ini lucu..”puspa menjembrengkan sebuah baju tidur berwarna pink
“pus..
anak gue cowo loh, bukan cewe”
“iii..
ntar kan jadinya cowo cutit”
“lucu
si pink.. tapi cariin yang warna biru aja”
“mang
lu yakin kalo anak lu cowo?”
“yakin
ga yakin, kan itu menurut perkiraan Dokter”
“dokter
bisa aja salah di”
“iya...
yaudah de.. pilih warna yang ke cewe bisa cowo bisa”
Sementara desy dan puspa mengobrak-abrik toko yang
kami masuki, aku duduk menemani vidi.
“gimana
rasanya mau jadi Ibu di?” aku mengusap-usap perutnya.
“banyak
jen... seneng banget... bersyukur... setiap jalan jadi hati-hati takut debay
kenapa-napa. Ngapa-ngapain juga jadi serba pelan. Jadi banyak tidur sama minta
dimanja”
“kalo
minta manja kayanya kepengenan lu doank deh di?”
“hhaha..
ya ada kepengenan guenya ada kepengenan debay nya..”
“daasaaar”
“lu
sendiri gimana hubungan lu ma Pak Neo?, baik-baik aja kan?”
“baik
ko.. tenang aja lagi”
“trus
kapan gue dapet undangan nih?”
“wahh
kalo itu belum tau deh di..”
“mang
belum ada planning?”
“planing
ada, tapi kan semua bukan berdasarkan kita juga”
“iya
sih.. ya jalanin aja.. gue berdoa yang terbaik aja buat lu jen”
“iya..
makasih ya”
“sama-sama jeni”
“di...
lu udah beli kereta dorong belum?, liat deh.. ini lucu banget..” desy
membawakan kereta dorong kearah kami.
“belum
si des...”
“mending
lu prepare juga deh..”
“bentar
deh, gue nelefon sertu dulu. Soalnya tadi
gue udah janjian sama dia”
“ye..
elu mah... yaudah deh lu tanya dulu”
Aku berkeliling melihat-lihat
perlengkapan bayi. Semuanya lucu dimataku. Membuat gemas dan ingin membeli
banyak hal.
“jeni..”
seseorang memanggil namaku. Jemi berdiri dengan memakai celemek penjaga toko.
“loh..
elu” aku tak percaya.
“hahaha”
dia tersenyum agak malu.
“lu
kerja disini”
“iya”
“ko
bisa”
“ya
bisa, emang kenapa?”
“cute
banget. Gue kira ya lu kerjanya apaan gitu”
“ha
ha ha.. gitu ya..”
“ga
nyangka aja gue”
Jemi bekerja di sebuah toko
perlengkapan bayi. Lucu sekali aku melihatnya memakai celemek berwarna biru
langit dan bertempelkan gambar-gambar kecil seperti beruang, panda, dan lain
sebagainya.
Aku memperkenalkannya dengan ketiga
temanku. Terlebih utama vidi yang memang ingin membeli perlengkapan bayi. Aku pun meminta sarannya.
Jemi tahu banyak tentang
perlengkapan bayi, dari harganya yang paling murah sampai yang paling mahal,
dia juga hafal betul dengan bahan-bahan yang baik dan bagus untuk bayi. Bukan
hanya perlengkapan bayi, dia juga memberikan banyak masukan untuk vidi yang
baru pertama kali ini akan memiliki bayi.
Dari susu, cara menggendong, cara
memandikan bayi. Tanda-tanda bayi sakit dan lain sebagainya.
Desy yang mengenal jemi hari itu
langsung terpukau dan terlihat dia menyukainya. Desy tak sekalipun pergi
meninggalkan jemi dan mengikutinya kemanapun dia pergi.
“wa..
makasih banyak ya jem.. ketolong gue ma lu., jadi ada kursusnya juga”
Aku mendorong kereta belanjaan vidi. Vidi membeli
banyak perlengkapan bayi. Sertu tidak mempermasalahkan kalau vidi membeli
perlengkapan bayi tanpa ditemani dia.
“kalau
perlu apa-apa atau ada yang ditanya, telefon gue aja” jemi menyodorkan kartu
namanya kepada vidi. Desy merebutnya.
“ha
ha ha..”
“ini..”
jemi mengambil kartu namanya lagi dan memberikannya kepada vidi.
“thanks”
“jem..
thanks banget ya.. kalo gitu gue balik dulu”
“tunggu”
dia menahan pundakku.
“boleh
minta nomer telefon kamu?”
Desy
terlihat cemberut sementara puspa dan vidi merasakan sesuatu yang aneh dari
laki-laki yang baru dikenalnya. Aku memberikan nomer telefonku dan sekali lagi
pamit.
“kayanya
dia punya rasa sama lu jen” puspa menyenggol lenganku.
“yah..
jeni lagi...” desy putus asa.
“jangan
mikir yang aneh-aneh”
“siapa
yang mikir aneh-aneh.
Biasanya cowo kalo kayak
gitu pasti ada something” vidi ikut menimpali.
“pertama
ka neo.. sekarang jemi, perasaan cowo yang naksir lu keren-keren banget, eh
yang sekarang cutit deh”
“apaan
si pus, ga jelas deh”
“ya...
just comment.. just comment”
“jeni..
lu kan udah ada ka neo.. mending yang ini lu comblangin ke gue”
“gue
males comblang-comblangan des”
“ngarep
yaaa..”
“iii
desi.. apaan si..”
“kan
lu udah sama ka neo”
“kan
belum tentu des” aku keceplosan.
“belum
tentu gimana?” vidi mengernyitkan kening.
“ya..
ya belum tentu kan.. kan jodoh ga ada yang tau” aku berusaha menghindar.
“tapikan
hubungan kamu sama dia udah sampe tahap bilang mau nikahin”
“kan
belum tentu vidi.. semuanya bisa berubah.. ya kan?”
“hmm”
“lagi
pula kita kan belum terikat apa-apa”
“iya
juga sih...”
“cie
jeni... jadi sekarang ada pilihan nih” puspa kembali menyenggol lenganku
“ih
apaan si, aku masih ke ka neo ko”
“tuuuh
kaan ngaku”
“udah
jalanin aja” aku menutup pembicaraan.
Baru sampai rumah dan baru
menyalakan ponselku. Sengaja kumatikan.tak lama sebuah pesan whatsap dari ka
neo masuk.
Gpp.. kamu have fun ya
sama sahabat-sahabat kamu... J 16.45
Salam buat mereka 16.45
Kamu pulang jam berapa? 16.45
Kamu sudah pulang? 19.25
Hp kamu mati, kamu juga ga
ada kabar 19.50
Aku dilapangan basket
yang biasa sama temen-temen aku 19.55
Mau aku jemput? 19.55
Ada riri disini 19.55
Kamu sudah pulang? 20.20
Kabari aku kalau sudah
sampai rumah 20.45
Lima kali panggilan masuk dari ka
neo dan sebuah pesan sms yang kubiarkan begitu saja. Melemparkan ponselku jauh
ke tempat tidur.
Riri
lagi.. riri lagi... aku bosan. Semenjak itu selalu ada dia. Dimana pun.
Ditempat-tempat dimana aku bersama dengan ka neo. Ka neo.. apa kamu tidak
merasakannya. Aku cemburu.
Aku
sama sekali ga suka kamu deket-deket sama riri.
Jam sembilan lewat sepuluh menit.
Aku mengambil ponselku dan bersiap pergi lagi. “ayah.. ibu.. aku kelapangan”
mengeluarkan sepeda motor dan terburu-buru pergi.
Aku begitu bodoh harus terhasut
perasaanku sendiri. Perasaan cemburu itu pasti ada tapi dengan aku
mengabaikannya berarti aku membiarkannya begitu saja. Aku tidak mau
membiarkannya begitu saja kemudian hilang seperti tak pernah terjadi apa-apa.
Aku percaya ka neo. Dia tidak mungkin menyakitiku. Dia pasti menjaga hubunganku
dengan dia. Sama seperti janji dia akan menikahiku setelah aku lulus nanti.
“ckreek”
suara pintu yang kubuka tidak terdengar oleh mereka. Berdiri di depan pintu dan
memperhatikan ka neo yang sedang bertanding dengan teman-temannya. Hanya ada
beberapa penonton disana. Keringat mengalir deras diwajahnya, dibadannya.
Wajahnya datar seperti memikirkan sesuatu, tidak fokus dengan pertandingan.
“Game
Set...” tim ka neo kalah. Riri berlari kearahnya membawa botol minuman dan
handuk. Ka neo tidak begitu memperhatikannya.
Meski di dadaku terasa ada api yang
membara aku memberanikan diri berjalan mendekatinya. “ ka neo..” menyapanya
dengan senyuman sebisaku.
“jeni...”
“ini..”
aku memberikannya botol
minumanku.
Dia
langsung mengambilnya dan meminumnya. Mengelus kepalaku “terima kasih..”
“sama-sama..”
aku menggandeng tangannya, menoleh kebelakang. Meski tak mengatakan sepatah
katapun berharap riri sadar apa yang kutunjukan kepadanya.
“kenapa?”
aku menanyainya
“ga
ada kamu jen.. makanya dia ga semangat” ega berteriak dari ujung lapangan.
“ha
ha ha” ka neo akhirnya tersenyum. Wajahnya tidak lagi kusam ataupun sedih.
“habis
ini kita makan ya” ajaknya
“hanya
berdua” dia membisikkannya di telingaku.
“hum”
mengangguk setuju.
Aku tidak begitu memperhatikan
kemana riri pergi. Dia sudah tidak ada dilapangan. Aku hanya ingin menunjukkan
kepadanya bahwa cerita tentang dia dan ka neo sudah berakhir. saat ini ka neo
sedang membuat ceritanya dengan ku. Meski kalian memiliki kenangan tapi aku
memiliki rancangan masa depan dengan ka neo. Itu tidak bisa dipungkiri. Aku
tidak mau kalah oleh perasaan kenangan kalian. Tidak mau kalah.
“aaa...”
menyuapi ka neo. Ka neo membuka mulutnya, senang sekali kuperlakukan manja.
Duduk
bersampingan dengan kaki saling berselonjor di bawah meja.
“kayanya
kamu lagi seneng banget” ka neo merapihkan poniku.
“ada
deh..” aku senang sekali berhasil mengalahkan riri hari ini. Menunjukkan
kekuatan pasangan didepannya. Memang hanya dugaan kalau dia sedang berusaha
mendekati ka neo. Sebelum hal itu terjadi aku harus bisa membatasinya.
“aaa”
kali ini ka neo menyuapiku.
“ehm..
uhuk uhuk” tersedak
“kamu
kalo makan selesein dulu. Baru ngomong” mengambilkan segelas air dan
memberikannya.
“makasii..”
“udaah..,
mau cerita apa?”
“seneng
banget ka, udah lama ga jalen barang desy, puspa, sama vidi”
“iya..waktu
kamu abis mulu sama ka neo ya?” ka neo mendengarkannya dengan perhatian.
“dih,
kata siapa?, jangan-jangan ka neo ngerasanya gitu?”
“ya
enggalah.. cubit nih pipinya”
“jangan”
aku menutup pipiku dengan kedua tanganku. Agak mencondongkan badan, menjauh
dari ka neo.
“bercanda....”
ka neo mengambil tanganku.
“kalau
kita udah bareng, ka neo mau kita sering kaya gini, bercanda bareng, ketawa
–ketiwi, cerita banyak hal, pagi-pagi ada yang nemenin kaka joging, sarapan,
setiap hari”
“kaka
gimana.. kalau kita udah nikah.. ya pasti aku bareng sama kaka terus kan.
Malahan kaka bisa-bisa bosen, aku yang cerewet, ga bisa masak, ga jago beresin
rumah,..”
“yang
tidur ngorok sama ngiler” ka neo melanjutkan
“itu
mah kaka..”
“masa?”
“iya..”
“kamu
kali..”
“iii
cubit nih”
Kami merangkai banyak hal di masa
depan kita. Dari merancang tema pernikahan sampai obrolan tentang bayi.
-
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh... ^_^b Bissmillahirakhmanirrahim, malam.... sekedar cerita, sebenarnya di Lab ATA tingka...
-
Sama halnya dengan Privacy Policy, membuat Disclaimer tidak begitu sulit. Ada beberapa orang yang menyatakan Disclaimer dalam sebuah Blog t...
-
PENDAHULUAN Pada Matakuliah Algoritma Pengolahan Paralel diketahui Terdapat beberapa model untuk abstract machine models diantaranya...
-
Socket Berbasis Scripting translate by: Hana Pertiwi Sebagian besar proyek akan bekerja baik jika Anda memilih salah satu metode scri...
-
Pada Artikel http://hanapert.blogspot.com/2015/06/membuat-menu-untuk-pemula-di-android.html dijelaskan cara membuat menu paling mudah unt...
-
Teknologi sekarang ini telah berkembang dengan pesat dan menjadi konsumsi masyarakat umum. Salah satunya adalah di bidang internet baik m...
-
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh Pada Bulan April lalu saya telah membahas tentang Komputasi Modern menyangkut sejarah Ko...











