hanapert -Stage 1 - WELCOME

Selamat Datang di Blog saya 'hanapert.blogspot.com' Blog Pribadi yang berisi semua unek-unek pribadi --> Jangan Lupa tinggalkan Pesan dan Kesan nya ya teman ^_^

hanapert -Stage 2 - BLOG, ANDROID, PHP

Android, salah satu Sistem Operasi yang saya jadikan bahan untuk Tugas Akhir dalam menyelesaikan S1 saya. Program yang berhasil dibuat saya beri nama 'IQRA HANA'

hanapert -Stage 3 - NOVEL

Menulis, Berimajinasi tanpa batas, Apresiasi. Perjalanan Novel yang sangat Panjang sampai akhirnya bisa mempublikasikannya dengan bantuan NulisBuku.com.

hanapert -Stage 4 - ANIME

Shigatsu Wa Kimi No Uso, anime yang bercerita tentang Kaori ..., dalam Blog ini ada beberapa Resensi Anime yang sudah ditonton oleh saya, masih banyak yang belum sempat tertuang. Ditunggu aja Postingan selanjutnya

hanapert -Stage 5 - GOOD BYE

Buah dan Sayuran merupakan salah satu Tema yang diangkat di BLOG ini, Selain karena manfaatnya yang baik untuk kesehatan tapi juga beberapa bermanfaat untuk kecantikan. Ladies kita intip sejenak yuk.. yang laki-laki juga boleh

20 Jan 2015

BADAI (chapter 12 Novel 'Sabtu yang kutunggu')

            Satu minggu ini vidi tidak masuk kuliah. Aku dan kedua sahabatku selalu mampir kerumahnya. Menjenguknya dan menemaninya agar tidak bosan. Kami juga mengkopikan file materi kuliah kami ke komputernya. Dia tidak bisa meminta sertu untuk selalu menemaninya setiap waktu. Paham betul tidak bisa selalu manja kepada sertu dan harus bisa mengerti pekerjaan sertu. Mungkin karena ini kehamilan pertama untuk vidi, dia baru sekali ini merasakan hal-hal yang baru sekali ini dialaminya.
            Dua jam kami disini vidi sudah mondar-mandir sampai dua puloh kalian lebih ke kamar mandi.
“uuuh mual banget nih”
“coba searching-searching di internet” aku memijit-mijit pelan leher vidi. Tidak tega melihatnya seperti ini. Menjadi Ibu hamil ternyata bisa semenderita ini.
“disini tertulis, kalo penyebab ibu hamil mual itu karena dia kelebihan hormon azzzzzz... mending lu baca sendiri deh jen..., panjang banget....” desy menjauh dari leptopnya dan memberikannya kepadaku.
“emang kenapa?”
“gua nggak ngerti sama bahasanya, gue kan paling ga bisa kalo pelajaran ini
            Aku mulai membaca beberapa artikel yang ditampilkan, setelah membaca beberapa artikel, memang sebaiknya vidi dibawa ke dokter kandungan untuk check up.
Kami bertiga menemani vidi check up hari itu. Melihat perkembangan calon keponakan kami kelak. Sudah lebih dari baik. Vidi sudah meminum beberapa obat yang diberikan Pa Dokter. Desy kembali kumat dengan kecentelinannya. Kali ini dokter kandungan yang menangani vidi. Dia selalu tertarik dengan laki-laki yang dia anggap tampan dan memiliki pekerjaan yang mulia dimatanya. Sulit sekali untuk desy tertarik dengan teman-temannya sendiri, padahal kalau desy tidak terlalu pilah-pilih, ada beberapa teman yang seumuran dengan kami yang menyukainya dan mengindeksikan kalau mereka ingin serius dengannya.
            Sementara desy dan puspa mengambil mobil menuju parkiran, aku menemani vidi pergi ke kamar mandi. Kemudian kembali menyusuri gedung rumah sakit menuju parkiran.
“JEN!” seseorang memanggilku dari kejauhan dan berlari kearah kami. Dia mengenakan jas putih layaknya seorang dokter.
“jemi?” aku tidak percaya, melihatnya mengenakan jas dokter.
“kamu dokter?” tanyaku lagi
“trus???, toko yang waktu itu?”
“iseng” dia menjawabnya santai.
“hai..” jemi menyapa vidi. Vidi membalas sekenanya.
“abis check up?” tanyanya
“iya... akhir-akhir ini vidi mual lebih parah”
“hmm”
“tadi dengan Pa Yunus? Atau..??” jemi menanyakan nama dokter yang merawat vidi.
“Bu Aisya”
“tapi sekarang udah mendingan” vidi melanjutkan.
“kamu?” aku menanyai nya
“dokter kandungan” jawab jemi santai
“azz kenapa baru bilang sekarang,coba dari kemarin bilangnya, kan gue bisa nanya ke lu” senewen dengan jemi.
“kalo gitu, besok-besok gue control sama lu aja”
“itu mah gampang, tapi sekarang udah lebih baik kan di?” tanyanya sopan.
“iya”
“dijaga baik-baik kandungannya. Kalo emang ada keluhan atau ada sesuatu jangan segen buat hubungi aku yah jen”
“eh! Ko aku?”
“kan kamu tugasnya jagain vidi”
            Setelah itu, setiap kontrol vidi selalu ditangani oleh jemi. Aku menjadi sering bertemu dan berbicara dengan jemi, menanyakan kandungan vidi.
Kamu masih di rumah sakit? Ka neo mengirimiku whatsap singkat
Iya, ada jemi disini. Dia dokter kandungan
Kebetulan banget
Huum
            Vidi baru saja keluar dari ruangan jemi. Sekarang kesehatannya lebih membaik. Aku jarang menerima kelohan kalau dia masih sering mual-mual. Suaminya sertu sedang pergi ke singapura untuk mengerjakan pekerjaan jadilah aku sebagai satpam untuk vidi.
“nanti malam mau keluar?” jemi memulai percakapannya denganku
“kemana?”
“kemana aja, yang penting asik”
“maaf jem, gue ga bisa”
“ok”
            Vidi mendengar percakapanku dengan jemi. Setiap kami selesai kontrol vidi selalu mengatakan kalau jemi memiliki perasaan kepadaku. Membuatku sedikit agak senang tetapi juga mulai merasakan risih.
            Aku tidak mau mengkhianati perasaanku kepada ka neo. Ka neo sudah mempercayakan banyak hal kepadaku, jadi aku harus bisa membalasnya dengan hal baik pula.
“lama-lama aku bisa bilang kamu mendingan sama jemi deh”
“ya ga gitu juga kali di, emangnya aku segitu matrenya”
“kalo matre, lu mah udah pasti milih ka neo”
“iii enak aja. trus karena milih ka neo, lu bilang gue matre?”
“hhahaha, ga juga sih.”
“trus?”
“emang susah ya jen dijelasin kalo udah masalah perasaan”
“nahh itu...”
            Malamnya aku menginap di rumah vidi. Lelah sekali menemani kemanapun vidi pergi. Bersyukur aku dilahirkan menjadi seorang wanita bukan laki-laki.
“Gubrak!!” aku terbangun dan kulihat vidi tidak ada disampingku. Membuka selimutku dan terburu-buru mencari dimana vidi. Takut terjadi sesuatu dengannya.
“viiiidiii!” aku berlari menuju vidi yang terjatuh di lantai.
“di.. bangun..” vidi tak sadarkan diri. Terburu-buru mengambil handphone, tanpa pikir panjang langsung menghubungi jemi.
            Jemi datang dengan mobil ambulan. Tim ambulan dengan cekatan membawa vidi kedalam mobil. Aku ikut duduk dibelakang memegang tangan vidi yang begitu lemah.
“kayanya dia kecapean banget jen. Apa vidi bekerja?”
“engga, tapi dia hobi banget beresin rumah akhir-akhir ini”
“dia kecapean jen. Seharusnya tugas rumah tangga atau yang lain jangan terlalu dipaksain, soalnya badan vidi itu lemah banget, apalagi dia lagi hamil. Makanan yang dia makan aja dibagi dua. Buat janinnya juga. Makanya dia harus bisa lebih menjaga diri lagi lebih baik.
            Dalam ambulance aku menghubungi sertu, ka neo, dan dua sahabatku. Aku sungguh takut terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan. Ingin sekali ada seseorang menemaniku saat ini yang mampu mengusir segala kecemasanku.
            Aku terbangun. Semalaman tanpa sadar aku ketiduran di tempat duduk di ruangan kamar vidi.
            Bermaksud membeli kopi dipagi ini. Membuka dan menutup pintu dengan pelan. Aku tidak mau vidi terbangun karenaku.
“pok” bau seseorang yang sangat kuhafal. Sebuah topi yang terbuat dari wol dia kenakan di kepalaku. Aku lantas berbalik dan tersenyum kepadanya.
“ka neo..”
“kamu mau kemana?”
“kopi.. kaka baru datang atau dari semalem?” tanyaku. Ka neo tidak menjawab pertanyaanku. Dia diam dan berjalan mendahuluiku. Aku tidak ingin mempermasalahkannya. Tidak mau ribut dengannya, melihat kondisi vidi saat ini, aku tidak mau terlarut dengan egoku sendiri.
            Ka neo duduk berjauhan denganku. Terasa sekali ada yang berbeda dengannya. Disaat aku membutuhkan seseorang untuk menguatkanku. Agar aku bisa tenang dengan apa yang sedang menimpa vidi, agar aku bisa selalu ada disampingnya ketika sertu tidak bisa berada disampingnya. Semuanya seperti sirna tanpa jejak.
“ikut aku” ka neo membawaku ketaman yang masih sepi yang ada di halaman rumah sakit.
“aku ga suka”
“apa?, aku ga ngerti, maksud ka neo itu apa?”
“kamu semalem tidur di pundak jemi” dia memalingkan wajahnya
“...” aku tidak tahu harus menjawab apa
“aku ga suka kamu deket sama jemi. Apalagi sampai kaya semalem”
“aku ga sadar ka semalem. Aku cape banget”
“itu bukan alasan jen”
“iya.. maaf ka”
            Ada percikan senang saat melihat ka neo seperti ini. Ka neo cemburu dengan jemi. Kukira dia sama sekali tidak memiliki perasaan cemburu dengan teman-temanku.
“kaka... kamu cemburu?, artinya kamu bener-bener sayang sama aku... makasi ya ka” menggandeng tangannya
“maafin aku, aku ga sengaja.. jangan marah ..” ka neo masih saja diam.
“yaudah deh, kalo kamu masih marah...ayok masuk” dengan menggandeng tangan ka neo, aku mengajaknya masuk ke tempat vidi.
            Dari luar kaca, kulihat sertu sudah didalam. Dia duduk dengan tangan yang menggenggam erat tangan vidi. Ada raut kecemasan dan kesedihan di wajahnya. Aku tidak mau masuk dan menggangggu mereka.
            Tak lama kemudian jemi melintasiku dan ka neo. Menyapa kami sekenanya dan masuk kedalam ruangan dengan beberapa suster. Memeriksa vidi. Entah pertanyaan apa yang sertu tanyakan kepada jemi, yang membuat jemi lama sekali di dalam ruangan. Melihat jemi yang keluar dari kamar vidi, aku berdiri dan menanyainya.
            Menurutnya vidi semakin membaik dan sebaiknya sudah tidak usah disibukkan dengan kegiatan kuliah atau pekerjaan rumah tangga. Dia membutuhkan banyak waktu untuk istirahat dan waktu untuk refreshing agar tidak stress.
            Merasa senang dengan apa yang diucapkan jemi aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Berusaha menjaga jarak agar ka neo tidak terlalu cemburu.
            Kurang lebih aku mengerti bagaimana rasanya kalau aku jadi ka neo sekarang. Aku sudah pernah mengalaminya dan sering mengalaminya jika itu ka neo. Sekarang ka neo yang sedang mengalaminya.
            Aku masih sangat mengantuk. Menutupi mulutku beberapa kali karena masih saja menguap. “kamu masih ngantuk” akhirnya ka neo berbicara dan merapihkan poniku.
“lumayan ka..”
“mau istirahat di rumah ku?, ga jauh dari sini”
“rumah kaka?”
“iya..”
“kaka ga tinggal satu rumah lagi sama orang tua kaka”
“kamu lupa ya?, rumah sakit ini kan dekat rumah orang tua kaka”
“o iya ya.. lupa ka...”
            Ka neo mengantarku ke rumahnya. Baru beberapa menit di mobilnya aku sudah tertidur pulas.
            Aku terbangun disebuah ruangan yang sama sekali tidak kukenali sebelumnya sampai kulihat sebuah foto dimana ada aku dan ka neo. Ini kamar ka neo. Terlalu rapih untuk ukuran lelaki kantoran yang sibuk yang juga dosen.
            Tunggu, aku ketiduran berapa jam disini?, ka neo ga ngapa-ngapain aku kan?, beranjak bangun dan mencari ka neo. Ngaca dulu, aku ga mau keliatan jelek banget nanti kalo ketemu ka neo. Pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahku. Berkeliling di rumah ka neo. Sama sekali tidak menemukannya. Jangan-jangan aku ditinggal sendiri dirumahnya, apa dia beli makanan keluar?.
Mencari ponselku dan menghubunginya. “ka neo?” aku menyapanya langsung saat dia mengangkat telefonnya. Bukan suara ka neo yang kudengar melainkan suara riri. Jelas kudengar ka neo merebut ponselnya dari tangan riri.
“halo”
“ka neo?”
“jen.. jangan salah paham dulu, kamu baru bangun?, ka neo balik sekarang”
“apa maksudnya ini?”
            Ka neo memutus telefonku. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini. Kenapa riri bersama ka neo. Kurang dari sepuluh menit ka neo kembali. Aku duduk menunggunya di ruang tamunya.
“jeni” dia berlari terburu-buru untuk menemuiku.
“syukur kamu masih dirumah”
“maksudnya apa?” pertanyaanku cukup singkat.
“ka neo Cuma mau kamu ga salah paham lagi sama riri. Tadi ka neo ga sengaja ketemu dia di supermarket, trus ngobrol sebentar. Ka neo pergi sebentar buat ambil pesenan kaka. Waktu kamu telefon dia langsung main angkat”
“itu sebabnya tadi kaka bertengkar dengan dia?”
“iya”
“jangan-jangan kaka masih sering ketemu dia?” pertanyaanku keluar begitu saja.
“engga jen”
“aku ngerasa ada yang aneh sama kaka dari kemarin”
Drrrt...ponselku berdering. Jemi. Ka neo melihatnya jelas di layar ponselku. Aku mengambilnya dari atas meja dan mengangkat telefon jemi. Memunggungi ka neo tanpa bermaksud apa-apa.
“apa?”
“iya..”
“gue kesana sekarang”
Ka neo menunggu penjelasanku. Menanyaiku kenapa dia menelefonku.
“kita kerumah sakit sekarang”
“kamu aja, aku ga ikut” ka neo duduk. Aku pergi meninggalkannya.
            Perasaan ini seakan sedang diuji. Kepercayaanku dan kepercayaannya. Kenapa ada wanita yang tidak kusukai yang masih menganggunya dan kenapa ka neo harus cemburu dengan jemi. Kenapa laki-laki sebaik jemi harus dia permasalahkan hanya karena sering menghubungiku.Seharusnya dia mendengarkan penjelasanku. Kecemburuannya saat ini tidak lebih penting dari nyawa vidi dan bayinya. Kenapa ka neo begitu egois. Berbagai pertanyaan muncul dikepalaku. aku tidak begitu mengerti dengan jalan pikiran ka neo.
            Di depan sebuah kamar, sertu, desy, dan puspa berdiri tegang. Usia kandungan vidi tujuh bulan dan dia sekarang sedang berjuang untuk melahirkannya. Yang kudengar dari jemi, saat vidi turun dari ranjangnya bermaksud pergi kekamar mandi dia terpeleset dan mengakibatkan air tubannya pecah karenanya harus dilakukan operasi secepatnya.
            Aku sungguh mengkhawatirkan vidi. Berharap dia dan bayinya baik-baik saja. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang membuatnya sedih. Berharap semuanya berakhir bahagia.
            Dua jam terasa sangat lama namun mendapatkan hasil yang membahagiakan. Vidi dan bayinya selamat. Tidak ada kabar yang lebih baik dari itu untuk saat ini.
“syukurlah” desy memeluk puspa, kami bertiga saling berpelukan dan mengucapkan selamat kepada sertu. Jemi keluar paling pertama dari ruangan operasi. Aku mendekatinya dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Dia menyunggingkan senyuman dan mengacak-acak rambutku.
“jen..” puspa menggoyangkan bahuku.
“ya pus?”

Aku melihat siapa yang dilihat oleh puspa. Disana berdiri ka neo. Dia melihatku dan jemi. Membawa seikat bunga dan jatuh begitu saja. Tanpa mengatakan apapun dia pergi meninggalkanku.

BERANI (chapter 11 Novel 'sabtu yang kutunggu')

Setiap sabtu, dimana ka neo mengajar disana riri berada. Aku sering sekali melihatnya. Selama tiga kali pertemuan ka neo di mata kuliahku, aku melihat riri yang menyapanya dari balik kaca pintu. Belajar dari pengalamanku sebelumya. Aku tidak mau terbakar emosi. Belajar untuk lebih sabar dan percaya lagi.
“itu siapa si jen?”
“kayanya udah berapa kali gue liat dia nyapa-nyapa Pak Neo kalo lagi ngajar deh”
“iya.. kalo ga senyum-senyum ga jelas gitu?”
Vidi, desy, dan puspa menanyaiku. Mengingat aku memiliki hubungan dengan Ka Neo.
“temen ka neo” aku menjawab singkat. Kembali memperhatikan materi yang ka neo jelaskan dari layar proyektor.
“yakin Cuma temen?, gue ngerasanya dia kaya kecentilan gitu” puspa menyelidik.
“perasan lu aja kali”
“eh!” vidi berujar seperti kaget.
“kenapa?” aku, desy, dan puspa bersamaan. Takut terjadi sesuatu dengan vidi.
“bayinya nendang”
“waaa.....”
Aku, desy, dan puspa bergantian menempelkan telinga kami di perut vidi. Sibuk sendiri.
“haloooo....” Ka Neo mengetuk penghapus di papan tulis beberapa kali. Meminta kami memperhatikannya.
“maaf Pa” aku berujar lirih.
“kalau kalian tidak mau mendengarkan penjelasan atau mengikuti mata kuliah Bapak, kalian cukup keluar kelas.”
Semakin kesini aku merasa sikap ka neo semakin dingin kepadaku. Semenjak pertemuan kami dengan riri.
“cowo lu kenapa si jen?” desy sedikit kesal melihat perlakuan Ka Neo di kelas kepadaku.
“bukan cowo gue”
“ yaa apa aja deh.. dia kenapa?”
nggak tau dan nggak ada urusan”
“kayanya lu lagi ada masalah ya?” puspa menghentikan makannya dan memandangiku.
“ssttt... jangan sampe vidi tau, kasian dia lagi hamil, ada malah stress” aku melihat vidi yang dapang menghampiri kami setelah keluar dari toilet.
“hayoo ngomongin gue ya?” dia datang dengan mengelus perutnya.
“hhaha.. pede bingit nih Bumil”
“apa tuh bumil?”
“ibu hamil..”
“hhahaha”
“eh.. serius nih.. ngomongin gue ya barusan” vidi masih penasaran.
“vidi penasaran banget dah. Orang kita lagi mikir-mikir debay lu cewe apa cowo.. bukan elunya”
“hhahaha sama aja keles”
“beda.. kan kita ngomonginnya debay yang diperut lu”
“ih. Maksa banget deh”
“trus-trus kata dokter cewe apa cowo?”
“katanya si cowo”
“kapan terakhir lu ke dokter?”
“baru kemarin, si sertu mah bener-bener. Kenapa-kenapa sedikit langsung ke dokter”
“wiiidiiih sertu... bukan main... seneng dong lu nya”
“gue ga nyesel beneran nikah muda, sama dia lagi. Dia bener-bener pengertian. Malem-malem kalo gue bangun, dia bangun. Kalo gue pengen makan apa mau itu tengah malem, dia pasti nyariin. Setiap pagi .. pasti udah ada susu sama roti di meja. Gue kalah bangun mulu. Padahal tidur duluan terus. Urusan rumah aja kadangan dia yang ngurusin.”
“waaa senengnya..”
“banget.. makanya gue nambah-nambah nambah terus sayang nya..”
“tapi jangan keterusan dia terus juga vidi”
“ya ga lah puspa.. kalo gue bisa, gue pasti lakuin sendiri”
“siiip”
“eh iya.. nanti temenin gue hunting baju-baju bayi mau ga?”
“mau-mau-mau” aku, desi, dan puspa kembali menjawab kompak. Ini keberapa kalinya kami menjawab berbarengan.
“eh.. yakin lu gapapa jen?” desy ingat hari ini biasanya aku pergi dengan ka neo.
“gapapa... gue juga kan pengen ngabisin waktu sama lu pada. Jarang-jarang juga kan”
“mending lu bilang dulu deh” vidi mengingatkan.
“iya..” aku mengambil ponselku dan mengirim sebuah pesan singkat kepada ka neo. Menutupnya dan menaruhnya kembali ke tas.
“cepet banget” vidi keheranan.
“emang mau nulis apaan lagi?”
“yaa kan biasanya mikir dulu”
“itu mah si puspa.. kalo jawab sms lama banget”
“eh! Eh! Itu dulu ya.. sekarang kan udah engga” puspa protes.
“ya tetep aja...”

            Kami tetap kece berempat, mengitari pertokoan yang ada di salah satu mal, dengan salah satu perut yang sudah membelendung diantara kami. Bukan lagi menatapi baju-baju fashion melainkan baju-baju bayi.
“di.. liat deh.. ini lucu..”puspa menjembrengkan sebuah baju tidur berwarna pink
“pus.. anak gue cowo loh, bukan cewe”
“iii.. ntar kan jadinya cowo cutit”
“lucu si pink.. tapi cariin yang warna biru aja”
“mang lu yakin kalo anak lu cowo?”
“yakin ga yakin, kan itu menurut perkiraan Dokter”
“dokter bisa aja salah di”
“iya... yaudah de.. pilih warna yang ke cewe bisa cowo bisa”
Sementara desy dan puspa mengobrak-abrik toko yang kami masuki, aku duduk menemani vidi.
“gimana rasanya mau jadi Ibu di?” aku mengusap-usap perutnya.
“banyak jen... seneng banget... bersyukur... setiap jalan jadi hati-hati takut debay kenapa-napa. Ngapa-ngapain juga jadi serba pelan. Jadi banyak tidur sama minta dimanja”
“kalo minta manja kayanya kepengenan lu doank deh di?”
“hhaha.. ya ada kepengenan guenya ada kepengenan debay nya..”
“daasaaar”
“lu sendiri gimana hubungan lu ma Pak Neo?, baik-baik aja kan?”
“baik ko.. tenang aja lagi”
“trus kapan gue dapet undangan nih?”
“wahh kalo itu belum tau deh di..”
“mang belum ada planning?”
“planing ada, tapi kan semua bukan berdasarkan kita juga”
“iya sih.. ya jalanin aja.. gue berdoa yang terbaik aja buat lu jen”
“iya.. makasih ya”
sama-sama jeni”
“di... lu udah beli kereta dorong belum?, liat deh.. ini lucu banget..” desy membawakan kereta dorong kearah kami.
“belum si des...”
“mending lu prepare juga deh..”
“bentar deh, gue nelefon sertu dulu. Soalnya tadi gue udah janjian sama dia
“ye.. elu mah... yaudah deh lu tanya dulu”
            Aku berkeliling melihat-lihat perlengkapan bayi. Semuanya lucu dimataku. Membuat gemas dan ingin membeli banyak hal.
“jeni..” seseorang memanggil namaku. Jemi berdiri dengan memakai celemek penjaga toko.
“loh.. elu” aku tak percaya.
“hahaha” dia tersenyum agak malu.
“lu kerja disini”
“iya”
“ko bisa”
“ya bisa, emang kenapa?”
“cute banget. Gue kira ya lu kerjanya apaan gitu”
“ha ha ha.. gitu ya..”
“ga nyangka aja gue”
            Jemi bekerja di sebuah toko perlengkapan bayi. Lucu sekali aku melihatnya memakai celemek berwarna biru langit dan bertempelkan gambar-gambar kecil seperti beruang, panda, dan lain sebagainya.
            Aku memperkenalkannya dengan ketiga temanku. Terlebih utama vidi yang memang ingin membeli perlengkapan bayi. Aku pun meminta sarannya.
            Jemi tahu banyak tentang perlengkapan bayi, dari harganya yang paling murah sampai yang paling mahal, dia juga hafal betul dengan bahan-bahan yang baik dan bagus untuk bayi. Bukan hanya perlengkapan bayi, dia juga memberikan banyak masukan untuk vidi yang baru pertama kali ini akan memiliki bayi.
            Dari susu, cara menggendong, cara memandikan bayi. Tanda-tanda bayi sakit dan lain sebagainya.
            Desy yang mengenal jemi hari itu langsung terpukau dan terlihat dia menyukainya. Desy tak sekalipun pergi meninggalkan jemi dan mengikutinya kemanapun dia pergi.
“wa.. makasih banyak ya jem.. ketolong gue ma lu., jadi ada kursusnya juga”
Aku mendorong kereta belanjaan vidi. Vidi membeli banyak perlengkapan bayi. Sertu tidak mempermasalahkan kalau vidi membeli perlengkapan bayi tanpa ditemani dia.
“kalau perlu apa-apa atau ada yang ditanya, telefon gue aja” jemi menyodorkan kartu namanya kepada vidi. Desy merebutnya.
“ha ha ha..”
“ini..” jemi mengambil kartu namanya lagi dan memberikannya kepada vidi.
“thanks”
“jem.. thanks banget ya.. kalo gitu gue balik dulu”
“tunggu” dia menahan pundakku.
“boleh minta nomer telefon kamu?”
Desy terlihat cemberut sementara puspa dan vidi merasakan sesuatu yang aneh dari laki-laki yang baru dikenalnya. Aku memberikan nomer telefonku dan sekali lagi pamit.
“kayanya dia punya rasa sama lu jen” puspa menyenggol lenganku.
“yah.. jeni lagi...” desy putus asa.
“jangan mikir yang aneh-aneh”
“siapa yang mikir aneh-aneh. Biasanya cowo kalo kayak gitu pasti ada something” vidi ikut menimpali.
“pertama ka neo.. sekarang jemi, perasaan cowo yang naksir lu keren-keren banget, eh yang sekarang cutit deh”
“apaan si pus, ga jelas deh”
“ya... just comment.. just comment”
“jeni.. lu kan udah ada ka neo.. mending yang ini lu comblangin ke gue”
“gue males comblang-comblangan des”
“ngarep yaaa..”
“iii desi.. apaan si..”
“kan lu udah sama ka neo”
“kan belum tentu des” aku keceplosan.
“belum tentu gimana?” vidi mengernyitkan kening.
“ya.. ya belum tentu kan.. kan jodoh ga ada yang tau” aku berusaha menghindar.
“tapikan hubungan kamu sama dia udah sampe tahap bilang mau nikahin”
“kan belum tentu vidi.. semuanya bisa berubah.. ya kan?”
“hmm”
“lagi pula kita kan belum terikat apa-apa”
“iya juga sih...”
“cie jeni... jadi sekarang ada pilihan nih” puspa kembali menyenggol lenganku
“ih apaan si, aku masih ke ka neo ko”
“tuuuh kaan ngaku”
“udah jalanin aja” aku menutup pembicaraan.
           
            Baru sampai rumah dan baru menyalakan ponselku. Sengaja kumatikan.tak lama sebuah pesan whatsap dari ka neo masuk.
Gpp.. kamu have fun ya sama sahabat-sahabat kamu... J                                                         16.45
Salam buat mereka                                         16.45
Kamu pulang jam berapa?                             16.45
Kamu sudah pulang?                                      19.25
Hp kamu mati, kamu juga ga ada kabar        19.50
Aku dilapangan basket yang biasa sama temen-temen aku                                                               19.55
Mau aku jemput?                                            19.55
Ada riri disini                                                  19.55
Kamu sudah pulang?                                      20.20
Kabari aku kalau sudah sampai rumah          20.45
            Lima kali panggilan masuk dari ka neo dan sebuah pesan sms yang kubiarkan begitu saja. Melemparkan ponselku jauh ke tempat tidur.
Riri lagi.. riri lagi... aku bosan. Semenjak itu selalu ada dia. Dimana pun. Ditempat-tempat dimana aku bersama dengan ka neo. Ka neo.. apa kamu tidak merasakannya. Aku cemburu.
Aku sama sekali ga suka kamu deket-deket sama riri.
            Jam sembilan lewat sepuluh menit. Aku mengambil ponselku dan bersiap pergi lagi. “ayah.. ibu.. aku kelapangan” mengeluarkan sepeda motor dan terburu-buru pergi.
            Aku begitu bodoh harus terhasut perasaanku sendiri. Perasaan cemburu itu pasti ada tapi dengan aku mengabaikannya berarti aku membiarkannya begitu saja. Aku tidak mau membiarkannya begitu saja kemudian hilang seperti tak pernah terjadi apa-apa. Aku percaya ka neo. Dia tidak mungkin menyakitiku. Dia pasti menjaga hubunganku dengan dia. Sama seperti janji dia akan menikahiku setelah aku lulus nanti.
“ckreek” suara pintu yang kubuka tidak terdengar oleh mereka. Berdiri di depan pintu dan memperhatikan ka neo yang sedang bertanding dengan teman-temannya. Hanya ada beberapa penonton disana. Keringat mengalir deras diwajahnya, dibadannya. Wajahnya datar seperti memikirkan sesuatu, tidak fokus dengan pertandingan.
“Game Set...” tim ka neo kalah. Riri berlari kearahnya membawa botol minuman dan handuk. Ka neo tidak begitu memperhatikannya.
            Meski di dadaku terasa ada api yang membara aku memberanikan diri berjalan mendekatinya. “ ka neo..” menyapanya dengan senyuman sebisaku.
“jeni...”
“ini..” aku memberikannya botol minumanku.
Dia langsung mengambilnya dan meminumnya. Mengelus kepalaku “terima kasih..”
“sama-sama..” aku menggandeng tangannya, menoleh kebelakang. Meski tak mengatakan sepatah katapun berharap riri sadar apa yang kutunjukan kepadanya.
“kenapa?” aku menanyainya
“ga ada kamu jen.. makanya dia ga semangat” ega berteriak dari ujung lapangan.
“ha ha ha” ka neo akhirnya tersenyum. Wajahnya tidak lagi kusam ataupun sedih.
“habis ini kita makan ya” ajaknya
“hanya berdua” dia membisikkannya di telingaku.
“hum” mengangguk setuju.
            Aku tidak begitu memperhatikan kemana riri pergi. Dia sudah tidak ada dilapangan. Aku hanya ingin menunjukkan kepadanya bahwa cerita tentang dia dan ka neo sudah berakhir. saat ini ka neo sedang membuat ceritanya dengan ku. Meski kalian memiliki kenangan tapi aku memiliki rancangan masa depan dengan ka neo. Itu tidak bisa dipungkiri. Aku tidak mau kalah oleh perasaan kenangan kalian. Tidak mau kalah.
“aaa...” menyuapi ka neo. Ka neo membuka mulutnya, senang sekali kuperlakukan manja.
Duduk bersampingan dengan kaki saling berselonjor di bawah meja.
“kayanya kamu lagi seneng banget” ka neo merapihkan poniku.
“ada deh..” aku senang sekali berhasil mengalahkan riri hari ini. Menunjukkan kekuatan pasangan didepannya. Memang hanya dugaan kalau dia sedang berusaha mendekati ka neo. Sebelum hal itu terjadi aku harus bisa membatasinya.
“aaa” kali ini ka neo menyuapiku.
“ehm.. uhuk uhuk” tersedak
“kamu kalo makan selesein dulu. Baru ngomong” mengambilkan segelas air dan memberikannya.
“makasii..”
“udaah.., mau cerita apa?”
“seneng banget ka, udah lama ga jalen barang desy, puspa, sama vidi”
“iya..waktu kamu abis mulu sama ka neo ya?” ka neo mendengarkannya dengan perhatian.
“dih, kata siapa?, jangan-jangan ka neo ngerasanya gitu?”
“ya enggalah.. cubit nih pipinya”
“jangan” aku menutup pipiku dengan kedua tanganku. Agak mencondongkan badan, menjauh dari ka neo.
“bercanda....” ka neo mengambil tanganku.
“kalau kita udah bareng, ka neo mau kita sering kaya gini, bercanda bareng, ketawa –ketiwi, cerita banyak hal, pagi-pagi ada yang nemenin kaka joging, sarapan, setiap hari”
“kaka gimana.. kalau kita udah nikah.. ya pasti aku bareng sama kaka terus kan. Malahan kaka bisa-bisa bosen, aku yang cerewet, ga bisa masak, ga jago beresin rumah,..”
“yang tidur ngorok sama ngiler” ka neo melanjutkan
“itu mah kaka..”
“masa?”
“iya..”
“kamu kali..”
“iii cubit nih”

            Kami merangkai banyak hal di masa depan kita. Dari merancang tema pernikahan sampai obrolan tentang bayi.